Browsed by
Tag: kisah mengharukan islami

Kisah Ayahanda Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaf

Kisah Ayahanda Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaf

Kisah Ayahanda Habib Syekh yang Meninggal disaat Sujud

Kisah Ayahanda Habib Syekh – Hari itu adalah hari terbaik bagi dirinya. Hari jum’at yang disebutkan oleh baginda Nabi Muhammad saw sebagai pemimpin hari-hari dalam seminggu dan sebagai hari raya bagi umat Muhammad saw. Di hari itu tidak seperti biasanya baliau keluar mengekan pakaian yang sangat indah dan wangi, tidak seperti penampilan beliau di hari-hari biasa lainnya.

Biasanya beliau dikenal dengan penampilannya yang sangat sederhana dan bersahaja, serta tampil apa adanya, tetapi di hari jum’at itu beliau berpenampilan layaknya pengantin yang telah mempersiapkan diri untuk bertemu dengan kekasih yang dicintai dan didambakannya.

al-Habib Abdul Qodir bin Abdurrahman Assegaf adalah imam Masjid Jami’ Assegaf di Kota Solo. Masjid itu termasuk Masjid yang dibangun dengan didasari ketakwaan kepada Allah swt sebagaimana yang disebutkan dalam Surat at-Taubah ayat 108.

Pendiri Masjid Jami’ Assegaf Solo

Pendiri masjid itu adalah seorang wali Allah swt, al-Iman al-‘Afifbillah al-Quthub al-Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf, seorang tokoh wali Allah swt yang berada di Kota Gresik. Beliau berdakwah dan dimakamkan di Kota itu pula. Konon masjid itu adalah wakaf darinya setelah mendapat hadiah dari Raja Kraton Solo.

Habib Abdul Qodir berjalan menuju ke Masjid Jami’ Assegaf untuk memimpin sholat jum’at. Beliau menuju Masjid dengan menunggan becak. Kondisinya yang lemah tidak menghalanginya untuk tiba di masjid yang mulia lagi agung itu. Langkah demi langkah beliau memperdekat jarak masjid itu.

Maka sampailah Beliau di depan Majid, yang akan menjadi saksi kebaikan baginya kelak dihadapan Allah swt. Setiap jengkal masjid itu merasa bangga dipijak oleh beliau, kaki seorang imam yang memenuhi kewajibannya. Telapak kaki hamba Allah swt yang selalu berjalan menuju ke tempat yang diridhai-Nya.

Lalu sampailah Habib Abdul Qodir di depan mihrab dan melakukan sunnah-sunnah di Hari Jum’at. Ibadah Shalat Jum’at pun dilaksanakan. Dimulai dengan seorang bilal yang bangkit, lalu mengingatkan agar setiap yang hadir untuk tidak berbicara saat khatib berkhutbah dan mendengarkannya dengan seksama. Kemudian dimulailah dua khutbah dengan memenuhi rukun-rukunnya. Mereka yang menghadiri Shalat Jum’at itu memenuhi lantai satu dan dua Masjid Jami’ Assegaf. Karena khatib berkhutbah terlalu lama, maka Habib Abdul Qodir mengingatkannya agar mempercepat khutbahnya, sebab itu termasuk yang disunnahkan dalam pelaksanaan Sholat Jum’at.

Baca: Kisah Islami Penuh Hikmah

Saat Akan Dimulainya Shalat Jumat

Setelah khutbah selesai kemudian diteruskan dengan iqamah dengan perlahan-lahan sampai pada kalimat ‘Qod qoomati sholah… Qod qoomati sholah…’ Ketika kalimat diatas dilantunkan, maka para jama’ah Sholat Jum’at pun berdiri memenuhi setiap shaf yang panjang dan rapat. Shaf pertama penuh berdesak-desakan.

Habib Abdul Qodir bangkit mempersiapkan dirinya mengimami Shalat Jum’at. Wajahnya yang memancarkan wibawa melihat kearah makmum. Pandangan mata beliau tertuju pada salah seorang pemuda di masa itu, al-Ustadz al-Habib Muhammad Najib bin Thaha Assegaf. Beliau adalah pemuda yang memperhatikan masalah dakwah dan social di waktu itu. Habib Najib bin Thaha berada di shaf kedua di dalam jama’ah shalat itu. Namun Habib Abdul Qodir mengisyaratan kepadanya agar maju ke shaf pertama di belakang beliau.

Melihat shaf pertama yang telah penuh berdesak-desakan itu Habib Najib berkata: ‘Shaf pertama telah penuh, wahai Habib.’ Mendengar jawaban itu Habib Abdul Qodir menjawab menjawab dengan penuh kewibawaan menjadikan ksatria pun akan bergetar dihadapannya: ‘Wahai anakku, majulah, engkau tak mengetahui maksudku!’ Jawaban itu menjadikan Habib Najib spontan maju ke shaf pertama, walaupun harus memaksakan diri mendesak shaf yang telah penuh itu.

Kemudian Habib Abdul Qodir memulai shalat dengan bacaan takbiratul ihram dan diteruskan dengan membaca Surat al-Fatihah dan Surat al-A’la serta Surat al-Ghasyiah pada rakaat kedua. Di rakaat kedua itu beliau ruku,i’tidal,sujud,duduk diantara dua sujud, lalu melaksanakan sujud kedua pada rakaat kedua.

Sujud Terakhir yang Panjang

Keheningan menyatu dengan semua yang hadir, dalam sujud akhir yang panjang itu. Para jama’ah itu menunggunya di sujud kedua itu, namun beliau tak kunjung bangkit dari sujudnya. Suara nafas beliau terdengar dari speaker masjid. Jama’ah yang berada di belakang beliau mendengarkan tarikan dan hembusan nafas beliau yang bergerumuh. Tubuh beliau mengembang dan mengempis.

Menggantikan Posisi Iman di Saat Terkahir

Karena sujud itu sangat lama, maka Habib Najib bin Thaha yang dari tadi ragu-ragu hendak mengambil alih imam, memberanikan diri untuk menggantikan beliau. ‘Allahu Akba r,’suara takbir yang melengking melegakan para jama’ah, namun takbir itu sekaligus mengundang rasa penasaran mereka, karena suara takbir itu bukan berasal dari Habib Abdul Qodir.

Memang mereka benar, takbir itu diucapkan oleh Habib Najib. Apa yang terjadi pada diri Habib Adbul Qodir Assegaf? Tadyahud akhir di shalat itu segera diselesaikan dan ucapan salam untuk mengakhiri shalat diucapkan: ‘Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh… Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.’

Baca: Malaikat Izrail Berkunjung ke Rumah

Setelah salam itu diucapkan, para jama’ah yang berjumlah banyak itu berhamburan lari kedepan. Mereka ingin mengetahui apa yang terjadi pada Habib Adbul Qodir Assegaf. Begitu pula jama’ah yang ada ditingkat dua, mereka segera turun menuju ke mihrab Masjid Assegaf. Saat itu mereka mendapati Habib Abdul Qodir Assegaf tetap dalam keadaan tidak bergerak.
Tubuhnya tak bernyawa lagi. Ruh beliau terbang ke hadhirat yang tinggi lagi angung. Menuju ke makam yang suci lagi jernih. Kemudian tubuh yang bersujud itu diangkat oleh para jama’ah yang hadir saat itu dan terlihatlah wajah Habib Abdul Qodir Assegaf. Sungguh setiap orang yang melihat wajahnya akan menitikan air mata.

Bagaimana tidak menitikkan air mata?

Mereka melihat wajah Habib Abdul Qodir Assegaf tersenyum dengan jelas sekali. Tersenyum bahagia, karena beliau sukses menjalani ujian-Nya dan berhasil membuktikan kepada-Nya dengan amal-amalnya yang terbaik.

Demikian, Habib Abdul Qodir Assegaf wafat dalam keadaan menikmati amal yang terindah. Di saat melakukan ibadah yang teragung yaitu shalat. Mendirikan shalat itu dalam kondisi yang terutama, yaitu berjama’ah. Melakukan shalat yang bermuatan besar, yaitu Shalat Jum’at. Pada saat melaksanakan rukun shalat yang terutama, yaitu sujud. Dalam posisi yang terpenting, yaitu sebagai imam Shalat Jum’at. Di tempat yang paling utama, yaitu di masjid. Di hari yang paling utama, yaitu hari jum’at. Wallahua’lam.

Buku referensi: Gema Shalawat dan Dakwah di Nusantara bersama Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaf.
Penyusun: Abdul Qodir Umar Mauladdawilah
%d blogger menyukai ini: