Browsed by
Kategori: Kisah Islami

Kisah Pernikahan Ali dan Fatimah

Kisah Pernikahan Ali dan Fatimah

Kisah Pernikahan Ali dan Fatimah yang Luar Biasa

Kisah Pernikahan Ali dan Fatimah Ketika Rasulullah saw., hendak mengawinkan putrinya Fathimah Az-Zahra, beliau tidak memedulikan tawaran para pembesar Quraisy dengan kekayaan mereka. Beliau menikahkannya dengan Ali bin Abi Thalib, seorang Quraisy, saudara sepupu dan sahabat terdekat yang paling miskin pada waktu itu.

Sayidina Ali bercerita tentang pernikahannya, “Seorang pembantu wanita saya bertanya kepadaku, ‘Apakah kau tahu bahwa Fathimah telah dipinang orang?’

Saya jawab, ‘Saya tidak tahu.’

Lalu, dia memberitahukan, ‘Dia sudah dipinang orang. Kenapa kau tidak meminangnya? Kau pergilah kepada Nabi untuk meminangnya. Insya Allah beliau akan menerimanya dan menikahkanmu dengan putrinya.’

Baca: Ciri-ciri Laki-Laki yang Pantas Dijadikan Suami

Saya jawab, ‘Tapi, saya tidak punya apa-apa untuk bekal pernikahan itu!’

Lalu ulangnya lagi, ‘Kalau kau datang kepada Rasulullah, insya Allah beliau akan menikahkanmu.’

Dia terus-terusan mendesakku. Sehingga, aku memutuskan untuk masuk menemui Nabi. Di hadapan kekasih Allah yang agung dan penuh wibawa itu, aku terdiam. Aku tidak mampu berkata-kata, apalagi untuk meminang putri beliau yang mulia.

Beliau memandangku dan dengan lembut menyapaku, ‘Ada keperluan apakah sehingga kau datang menemuiku?’

Aku terdiam. Beliau bertanya lagi. ‘Atau, barangkali kau datang untuk melamar Fathimah?’

Dengan ragu-ragu aku menjawab, ‘Ya.’

‘Apakah kau mempunyai mahar untuk menikahinya?’ Tanya Nabi.

Baca: Kisah Niatan yang Salah

Aku kembali terdiam. Lalu sejenak kemudian aku menjawab, ‘Tidak ya Rasulallah. Demi Allah!’

‘Mana baju besi yang pernah aku berikan kepadamu?’ tanya Rasulullah.

‘Ada. Tapi demi Allah, ia hanya sebuah baju besi saja, yang nilainya tidak lebih dari 400 dirham!’

Nabi saw., berkata, ‘Biarlah. Baik, dengan itu aku menikahkan engkau dengan putriku. Antarkan baju besi itu kepadanya, dan pernikahanmu telah halal dengan mahar baju besi itu.’

Itulah mahar Fathimah binti Rasulullah.”

HIKMAH

Orang yang mengharap ridha Tuhannya tidak berat menikahkan putrinya dengan orang miskin yang baik agamanya. Ridha Allah lebih berharga di hatinya daripada kekayaan sebanyak apa pun.

Buku Referensi: 88 Kisah Orang-orang berakhlak Mulia
Karya: Harlis Kurniawan

Kisah Tentang Niatan yang Salah

Kisah Tentang Niatan yang Salah

Kisah Tentang Niatan yang Salah dari Seorang Qori, Pemberi Sedekah dan Mujahid

Niatan yang Salah – Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam Sunan-nya dengan sanadnya sampai Sufayi Al-Ashbahi bahwa ia masuk madinah. Tiba-tiba ia mendapati laki-laki yang dikelilingi oleh orang-orang.

Sufayi bertanya, “Siapa itu?”

Orang-orang menjawab, “Abu Hurairah.”

Sufayi lalu mendekatinya sampai duduk di depannya. Abu Hurairah sedang menceramahi orang-orang. Ketika Abu Hurairah diam dan keadaan telah sepi, Sufayi berkata kepadanya, “Kuminta padamu dengan sungguh-sungguh hendaklah engka katakana kepadaku sebuah hadits yang kau dengar dari Rasulullah yang kau pikir dan kau ajarkan.”

Abu Hurairah berkata, “Baiklah, akan aku ceritakan kepadamu sebuah hadits Rasulullah yang mengatakannya kepadaku, aku pikir dan aku ajarkan.”

Abu Hurairah Menangis

Kemudian Abu Hurairah tersedu-sedu, ia berhenti sebentar, lalu sadar kembali dan berkata, “Akan aku ceritakan kepadamu sebuah hadits yang Rasulullah mengatakannya kepadaku di rumah ini. Tidak ada seorangpun di sini kecuali aku dan beliau.”

Abu Hurairah kembali tersedu-sedu, lalu sadar dan mengusap wajahnya. Ia lalu berkata, “Akan aku ceritakan kepadamu sebuah hadits yang Rasulullah mengatakannya kepadaku di rumah ini. Tidak ada seorangpun di sini kecuali aku dan beliau.”

Kemudian Abu Hurairah kembali tersedu-sedu, lalu sadar dan mengusap wajahnya. Lalu berkata, “Akan aku ceritakan kepadamu sebuah hadits yang Rasulullah mengatakannya kepadaku di rumah ini. Tidak ada seorangpun di sini kecuali aku dan beliau.”

Abu Hurairah kembali tersedu-sedu dengat sangat hebat, kemudian ia condong mau rubuh ke depan. Sufayi menyandarkan Abu Hurairah pada dirinya lama sekali.

Kemudian Abu Hurairah tersadar lalu berkata, “Rasulullah bercerita kepadaku bahwa Allah pada hari kiamat turun menemui hamba-hamba-Nya untuk mengadili mereka. Setiap umat berlutut. Yang pertama kali dipanggil adalah orang yang hafal Al-Quran, orang yang terbunuh dalam perang di jalan Allah dan orang yang banyak hartanya.

Baca: Adab Media Sosial bagi Para Muslimah

Allah Bertanya Kepada Mereka

Allah lalu berkata pada si qari (pembaca Al-Quran), ‘Bukankah Aku telah mengajarimu apa yang Aku turunkan kepada rasul-Ku?’

Si qari menjawab, ‘Ya, benar Tuhanku.’

Allah lalu bertanya, ‘Apa yang kau lakukan dengan apa yang aku ajarkan?’

Ia menjawab, ‘Aku mendirikan shalat dengannya di tengah malam dan siang.’

Allah seketika berkata kepadanya, ‘Kau dusta!’

Malaikat juga berkata kepadanya, ‘Kau dusta!’

Allah berkata, ‘Tetapi, kamu ingin agar dikatakan si Fulan seorang qari dan hal itu telah dikatakan!’

Setelah itu didatangkanlah pemilik harta. Allah berkata padanya, ‘Bukankah telah Aku luaskan rezekimu sampai Aku tidak membiarkanmu butuh pada orang lain?’

Ia menjawab, ‘Ya benar Tuhanku.’

Allah bertanya, ‘Apa yang telah kau perbuat dengan apa yang Aku berikan kepadamu?’

Ia menjawab, ‘Aku menyambung tali silaturahmi dan bersedekah.’

Allah seketika berkata kepadanya, ‘Kau dusta!’

Malaikat juga berkata kepadanya, ‘Kau dusta!’

Allah berkata, ‘Kau hanya ingin agar dikatakan si Fulan orang yang dermawan dan hal itu telah dikatakan!’

Setelah itu didatangkanlah orang yang terbunuh di jalan Allah. Allah berkata kepadanya, ‘Kenapa kau terbunuh?’

Ia menjawab, ‘Engkau memerintahkan jihad fi sabilillah, maka aku berperang sampai terbunuh.’

Allah seketika berkata kepadanya, ‘Kau dusta!’

Malaikat juga berkata kepadanya, ‘Kau dusta!’

Allah berkata, ‘Kau hanya menginginkan agar di katakana si Fulan pemberani dan hal itu telah dikatakan!’

Rasulullah lalu menepuk kedua lututku dan bersabda: ‘Wahai Abu Hurairah, tiga orang itu adalah makhluk Allah yang pertama kali digunakan untuk menyalakan api neraka pada hari kiamat.’

HIKMAH

Sebanyak apa pun ibadah jika dilakukan dengan niatan yang salah dan tidak ikhlas karena Allah, maka ibadah itu tertolak. Sebanyak apapun kebaikan jika dilakukan dengan niatan yang salah dan tidak ikhlas karena Allah, maka kebaikan itu sia-sia saja.

Baca: Ciri Laki-laki Baik yang Jangan Sampai Kamu Tolak Jika Melamarmu

Buku Referensi: 88 Kisah Orang-orang berakhlak Mulia
Karya: Harlis Kurniawan

Kisah Menahan Nafsu dari Abdurrahman Al-Qass

Kisah Menahan Nafsu dari Abdurrahman Al-Qass

Kisah Menahan Nafsu dari Abdurrahman Al-Qass

Kisah Menahan Nafsu dari Abdurrahman Al-Qass – Abdurrahman Al-Qass adalah selah seorang penduduk Mekkah yang terkenal paling bagus ibadah dan zuhudnya. Tapi, ia akhirnya jatuh hati dengan seorang gadis cantik bersuara merdu Salamah.
Pada suatu kesempatan Salamah bertemu dengan Abdurrahman disebuah tempat sepi. Tentu saja dua orang yang sedang dimabuk cinta itu begitu gembiranya dengan pertemuan tersebut.
“Tuan, sungguh aku benar-benar mencintaimu,” ujar Salamah.
“Aku pun sangat mencintaimu.”
“Sungguh, aku sangat ingin memelukmu.”
“Demi Tuhan, aku pun demikian, Salamah,” ujar Abdurrahman.
“Lalu apalagi yang menghalangimu melakukan hal itu? Bukankah tempat ini sepi, sayang?” Tanya Salamah manja.

Baca juga: Kisah Mengharukan Islami Abad Ini dari Ayahanda Habib Syekh Assegaf

Teringat dengan Firman Allah Swt

“Kekasihku, sesungguhnya aku teringat Firman Allah: ‘Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.’ (QS. Az-Zukruf: 67) Duhai kekasih, aku tidak ingin perasaan cinta yang tumbuh di antara kita ini kelak akan menjadikan kita bermusuhan di hari kiamat.”
“Kamu benar, tapi apakah Allah tidak mau mengampuni kita kalau kita nanti bertaubat setelah bermaksiat?”
“Saya tidak bisa menjamin bahwa umur kita masih panjang setelah bermaksiat. Bisa saja ajal menjemput kita saat kita sedang bermaksiat,” ujar Abdurrahman lemas.
Kemudian Abdurrahman Al-Qass bangkit dan pergi dengan tangisan di kedua matanya. Sejak saat itu ia tidak mau lagi bertemu dengan Salamah. Ia akhirnya kembali lagi kepada kehidupannya dahulu yang dipenuhi dengan ibadah dan ketaatan kepada Allah.

Itulah Kisah Menahan Nafsu dari Abdurrahman Al-Qass yang dapat memberikan pelajaran bagi kita semua agar selalu berusaha menahan nafsu syahwat kita terhadap lawan jenis kita.

HIKMAH

Barangsiapa mencintai seseorang bukan karena Tuhannya, kelak ia akan menjadi musuh dari orang yang dicintainya di akhirat kelak. Sesungguhnya merugi orang yang mempunyai cinta seperti ini.

 

Buku Referensi: 88 Kisah Orang-orang berakhlak Mulia
Karya: Harlis Kurniawan

Kisah Ayahanda Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaf

Kisah Ayahanda Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaf

Kisah Ayahanda Habib Syekh yang Meninggal disaat Sujud

Kisah Ayahanda Habib Syekh – Hari itu adalah hari terbaik bagi dirinya. Hari jum’at yang disebutkan oleh baginda Nabi Muhammad saw sebagai pemimpin hari-hari dalam seminggu dan sebagai hari raya bagi umat Muhammad saw. Di hari itu tidak seperti biasanya baliau keluar mengekan pakaian yang sangat indah dan wangi, tidak seperti penampilan beliau di hari-hari biasa lainnya.

Biasanya beliau dikenal dengan penampilannya yang sangat sederhana dan bersahaja, serta tampil apa adanya, tetapi di hari jum’at itu beliau berpenampilan layaknya pengantin yang telah mempersiapkan diri untuk bertemu dengan kekasih yang dicintai dan didambakannya.

al-Habib Abdul Qodir bin Abdurrahman Assegaf adalah imam Masjid Jami’ Assegaf di Kota Solo. Masjid itu termasuk Masjid yang dibangun dengan didasari ketakwaan kepada Allah swt sebagaimana yang disebutkan dalam Surat at-Taubah ayat 108.

Pendiri Masjid Jami’ Assegaf Solo

Pendiri masjid itu adalah seorang wali Allah swt, al-Iman al-‘Afifbillah al-Quthub al-Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf, seorang tokoh wali Allah swt yang berada di Kota Gresik. Beliau berdakwah dan dimakamkan di Kota itu pula. Konon masjid itu adalah wakaf darinya setelah mendapat hadiah dari Raja Kraton Solo.

Habib Abdul Qodir berjalan menuju ke Masjid Jami’ Assegaf untuk memimpin sholat jum’at. Beliau menuju Masjid dengan menunggan becak. Kondisinya yang lemah tidak menghalanginya untuk tiba di masjid yang mulia lagi agung itu. Langkah demi langkah beliau memperdekat jarak masjid itu.

Maka sampailah Beliau di depan Majid, yang akan menjadi saksi kebaikan baginya kelak dihadapan Allah swt. Setiap jengkal masjid itu merasa bangga dipijak oleh beliau, kaki seorang imam yang memenuhi kewajibannya. Telapak kaki hamba Allah swt yang selalu berjalan menuju ke tempat yang diridhai-Nya.

Lalu sampailah Habib Abdul Qodir di depan mihrab dan melakukan sunnah-sunnah di Hari Jum’at. Ibadah Shalat Jum’at pun dilaksanakan. Dimulai dengan seorang bilal yang bangkit, lalu mengingatkan agar setiap yang hadir untuk tidak berbicara saat khatib berkhutbah dan mendengarkannya dengan seksama. Kemudian dimulailah dua khutbah dengan memenuhi rukun-rukunnya. Mereka yang menghadiri Shalat Jum’at itu memenuhi lantai satu dan dua Masjid Jami’ Assegaf. Karena khatib berkhutbah terlalu lama, maka Habib Abdul Qodir mengingatkannya agar mempercepat khutbahnya, sebab itu termasuk yang disunnahkan dalam pelaksanaan Sholat Jum’at.

Baca: Kisah Islami Penuh Hikmah

Saat Akan Dimulainya Shalat Jumat

Setelah khutbah selesai kemudian diteruskan dengan iqamah dengan perlahan-lahan sampai pada kalimat ‘Qod qoomati sholah… Qod qoomati sholah…’ Ketika kalimat diatas dilantunkan, maka para jama’ah Sholat Jum’at pun berdiri memenuhi setiap shaf yang panjang dan rapat. Shaf pertama penuh berdesak-desakan.

Habib Abdul Qodir bangkit mempersiapkan dirinya mengimami Shalat Jum’at. Wajahnya yang memancarkan wibawa melihat kearah makmum. Pandangan mata beliau tertuju pada salah seorang pemuda di masa itu, al-Ustadz al-Habib Muhammad Najib bin Thaha Assegaf. Beliau adalah pemuda yang memperhatikan masalah dakwah dan social di waktu itu. Habib Najib bin Thaha berada di shaf kedua di dalam jama’ah shalat itu. Namun Habib Abdul Qodir mengisyaratan kepadanya agar maju ke shaf pertama di belakang beliau.

Melihat shaf pertama yang telah penuh berdesak-desakan itu Habib Najib berkata: ‘Shaf pertama telah penuh, wahai Habib.’ Mendengar jawaban itu Habib Abdul Qodir menjawab menjawab dengan penuh kewibawaan menjadikan ksatria pun akan bergetar dihadapannya: ‘Wahai anakku, majulah, engkau tak mengetahui maksudku!’ Jawaban itu menjadikan Habib Najib spontan maju ke shaf pertama, walaupun harus memaksakan diri mendesak shaf yang telah penuh itu.

Kemudian Habib Abdul Qodir memulai shalat dengan bacaan takbiratul ihram dan diteruskan dengan membaca Surat al-Fatihah dan Surat al-A’la serta Surat al-Ghasyiah pada rakaat kedua. Di rakaat kedua itu beliau ruku,i’tidal,sujud,duduk diantara dua sujud, lalu melaksanakan sujud kedua pada rakaat kedua.

Sujud Terakhir yang Panjang

Keheningan menyatu dengan semua yang hadir, dalam sujud akhir yang panjang itu. Para jama’ah itu menunggunya di sujud kedua itu, namun beliau tak kunjung bangkit dari sujudnya. Suara nafas beliau terdengar dari speaker masjid. Jama’ah yang berada di belakang beliau mendengarkan tarikan dan hembusan nafas beliau yang bergerumuh. Tubuh beliau mengembang dan mengempis.

Menggantikan Posisi Iman di Saat Terkahir

Karena sujud itu sangat lama, maka Habib Najib bin Thaha yang dari tadi ragu-ragu hendak mengambil alih imam, memberanikan diri untuk menggantikan beliau. ‘Allahu Akba r,’suara takbir yang melengking melegakan para jama’ah, namun takbir itu sekaligus mengundang rasa penasaran mereka, karena suara takbir itu bukan berasal dari Habib Abdul Qodir.

Memang mereka benar, takbir itu diucapkan oleh Habib Najib. Apa yang terjadi pada diri Habib Adbul Qodir Assegaf? Tadyahud akhir di shalat itu segera diselesaikan dan ucapan salam untuk mengakhiri shalat diucapkan: ‘Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh… Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.’

Baca: Malaikat Izrail Berkunjung ke Rumah

Setelah salam itu diucapkan, para jama’ah yang berjumlah banyak itu berhamburan lari kedepan. Mereka ingin mengetahui apa yang terjadi pada Habib Adbul Qodir Assegaf. Begitu pula jama’ah yang ada ditingkat dua, mereka segera turun menuju ke mihrab Masjid Assegaf. Saat itu mereka mendapati Habib Abdul Qodir Assegaf tetap dalam keadaan tidak bergerak.
Tubuhnya tak bernyawa lagi. Ruh beliau terbang ke hadhirat yang tinggi lagi angung. Menuju ke makam yang suci lagi jernih. Kemudian tubuh yang bersujud itu diangkat oleh para jama’ah yang hadir saat itu dan terlihatlah wajah Habib Abdul Qodir Assegaf. Sungguh setiap orang yang melihat wajahnya akan menitikan air mata.

Bagaimana tidak menitikkan air mata?

Mereka melihat wajah Habib Abdul Qodir Assegaf tersenyum dengan jelas sekali. Tersenyum bahagia, karena beliau sukses menjalani ujian-Nya dan berhasil membuktikan kepada-Nya dengan amal-amalnya yang terbaik.

Demikian, Habib Abdul Qodir Assegaf wafat dalam keadaan menikmati amal yang terindah. Di saat melakukan ibadah yang teragung yaitu shalat. Mendirikan shalat itu dalam kondisi yang terutama, yaitu berjama’ah. Melakukan shalat yang bermuatan besar, yaitu Shalat Jum’at. Pada saat melaksanakan rukun shalat yang terutama, yaitu sujud. Dalam posisi yang terpenting, yaitu sebagai imam Shalat Jum’at. Di tempat yang paling utama, yaitu di masjid. Di hari yang paling utama, yaitu hari jum’at. Wallahua’lam.

Buku referensi: Gema Shalawat dan Dakwah di Nusantara bersama Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaf.
Penyusun: Abdul Qodir Umar Mauladdawilah
Malaikat Izrail Berkunjung ke Rumah

Malaikat Izrail Berkunjung ke Rumah

Malaikat Izrail Bertamu ke Rumah Sepasang Suami Istri

Malaikat Izrail Bertamu ke Rumah – suatu malam, ada sepasang suami istri yang sedang bercengkrama di kamar bak sepasang pengantin baru.

        Tiba-tiba sang suami mendengar ada yang mengetuk pintu. Tok… tok… tok!!

        “Mah.. ” kata sang suami, “Pintu ada yang mengetuk tuh. Ada tamu kali? ”

        Sang istri menjawab dengan malas, “Saya tidak mendengar suara apa-apa, Pa..,” katanya sambil menarik selimut.

        Tok.. tok.. tok..!!!

        Suara itu terdengar lagi.

Sang suami berkata lagi, “Mah, benar tuh. Ada yang mengetuk!” Lalu ia meminta istrinya untuk melihat ke ruang tamu, memeriksa siapa tahu benar ada tamu.

        Lantaran hormatnaya kepada suami, sang istri berjalan ke pintu yang dimaksud. Disingkapnya tirai jendela, tapi tidak ada tamu yang terlihat. Karena penasaran, dibukanya pintu, pun tidak ada tamu yang terlihat. Keadaan ini dilaporkan kepada sang suami.

        Tok.. tok.. tok..!!!

        Suara itu kembali terdengar, begitu sang istri selesai melaporkan tidak ada tamu. Si suami bingung, mengapa suara itu hanya dia yang mendengar. Dengan kainya yang agak-agak berantakan, suami ini pergi menuju ke pintu depan rumah untuk melihatnya langsung, dengan rasa penasaran.

        Kira-kira selangkah lagi menjelang pintu depan, si suami ini bertanya, “Siapa di luar? Malam-malam namu!” Suara di depan menjawab  dengan nada pelan dan datar, “Saya… Izrail!”.

Baca juga: Muslimah Harus Berhijab dengan Benar

Malaikat Izrail Mencabut Nyawanya

      Mesti pelan dan datar, suara itu bak guntur yang mengagetkan hati suami tersebut. Ia tahu bahwa malaikat izrail itu kalau datang, pasti untuk mencabut nyawa. Suami tersebut memutar langkah, berbalik ke belakang. Tiba-tiba saja ia teringat bahwa dia belum shalat, belum sedekah, belum haji sedang uang ada, belum minta maaf kepada mereka yang pernah ia kecewakan, dan belum-belum yang lainnya. Tapi terlambat. Sejurus dengan berbalik arahnya dia, tiba-tiba saja ia mendapati malaikat izrail sudah bergerak mencabut nyawanya! Maka terhempaslah badannya yang sudah tidak bernyawa.

Buku Referensi: 88 Kisah Orang-orang berakhlak Mulia
Karya: Harlis Kurniawan

Kisah Tobat Seorang Majikan

Kisah Tobat Seorang Majikan

Kisah Tobat Seorang Majikan Setelah Mendengar Ucapan dari Istri Pembantunya

Kisah Tobat Seorang Majikan – Konon di Bashrah ada seorang tukang tukang kebun yang bekerha pada salah satu orang kaya. Tukang kebun itu memiliki seorang istri yang sangat cantik jelita. Singkat cerita, majikannya tertarik kepada istri tukang kebun tersebut.

Pada suatu ketika, sang majikan pergi ke rumah tukang kebun dan berkata kepada tukang kebun, “pergilah kamu bersama si fulan dan si fulan untuk memetik buah kurma yang sudah matang dan kumpulkanlah kurma-kurma tersebut bersama dengan kurma yang lainnya.”

Baca: Tips Bertobat dari Pacaran bagi yang Terlanjur Pernah Pacaran

Tukang kebun pun bergegas pergi melaksanakan perintah majikannya tersebut. Setelah tukang kebun pergi, si majikan tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia langsung memanggil istri si tukang kebun tersebut dan berkata kepadanya, “tutuplah semua pintu rumah. Jangan sampai ada yang tertinggal satupun.

Istri si tukang kebun pun melaksanakan perintah sang majikan dan menutup semua pintu rumah. Setelah semua pintu rumah di tutup, karena agak takut, si majikan ingin memastikan lagi apakah istri si tukang kebun tersebut sudah benar-benar menutup semua pintu rumah seraya bertanya, “Apakah masih ada pintu yang belum kamu tutup?”

Baca juga: Kisah Ayahanda Habib Syekh

          Dengan tegas istri si tukang kebun itu menjawab, “Benar masih ada satu pintu lagi yang belum aku tutup.”

          Si majikan bertanya, “Pintu yang manakah itu?”

          Istri tukang kebun menjawab, “Pintu yang menghubungkan kita dengan Allah.

          Mendengar jawaban tersebut, hati si majikan tersentuh. Ia pun menangis lalu bangkit dan pergi meninggalkan rumah si tukang kebun tersebut dengan badan yang basah karena keringat. Akhirnya, ia selamat dari perbuatan maksiat dan amoral yang direncanakannya. Kemudian sang majikan bertaubat dan menyesali kesalahannya itu yang hampir membuatnya melakukan hal yang dilarang oleh Allah Swt.

HIKMAH

Beruntunglah orang yang bertaubat dari perbuatan jahat yang direncanakannya. Pasalnya, ia sudah terhindar dari panasnya api neraka yang siap membakarnya.

Buku Referensi: 88 Kisah Orang-orang berakhlak Mulia
Karya: Harlis Kurniawan

%d blogger menyukai ini: