Browsed by
Penulis: Haddad Dragneel

Bertaubat dari Pacaran

Bertaubat dari Pacaran

Tips Bertaubat dari Pacaran bagi Kalian yang Terlanjur Pacaran

Bertaubat dari Pacaran Bagi anda yang sudah terlanjur berpacaran atau bisa dibilang sudah pernah pacaran dan punya niat untuk bertobat. Maka, inilah langkah-langkah bagi anda semua yang ingin Bertaubat dari Pacaran dan menghindari yang namanya pacaran. Agar bisa kembali ke jalan yang benar dan kembali menjadi hamba Allah yang beriman dan bertakwa, insya Allah.

Inilah langkah-langkah yang harus kalian lakukan bagi anda yang terlanjur pacaran dan ingin Bertaubat dari Pacaran.

  1. Jika anda sudah terlanjur pacaran, maka segeralah mengubah gaya hubungan anda secara syar’i dan segera merencanakan pernikahan, agar tidak terus-menerus terjebak dalam dosa kemaksiatan.
  1. Menghindari sebaik mungkin hubungan spesial antara seorang laki-laki dan wanita yang bukan mukhrimnya. Karena jika kalian tetap memiliki hubungan spesial dengan lawan jenis kalian, maka yang di khawatirkan dengan hubungan spesial tersebut akan menjadi awal berpacarannya kalian.

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra: 32)

Jika mendekati saja sudah dilarang oleh Allah, apalagi kalau sudah pacaran. Maka dari itu, berusahalah jangan sampai ada hubungan yang spesial dengan lawan jenis kalian. Hindari ngobrol atau chatingan yang tidak penting dengan lawan jenis kalian.

Baca: Kisah Pernikahan Ali dan Fatimah

  1. Bertobat dari zina, karena ini termasuk dosa besar yang bisa mengantarkan pelakunya ke azab yang sangat pedih.

Berikut ini adalah syarat tobat yang harus dipenuhi oleh orang yang ingin bertobat.

  • Ikhlas karena Allah, maksudnya adalah meninggalkan dosa karena takut kepada Allah dan ingin mendekatkan diri kepada-Nya.
  • Menyesal atas perbuatan dosa yang telah dia perbuat sebelumnya.
  • Segera meninggalkan dosa tersebut dan tidak menunda-nundanya.
  • Bertekad kuat untuk tidak kembali kepada dosa tersebut.
  • Tobat itu dilaksanakan pada saat tobat masih diterima, yaitu sebelum ajal menjemput dan sebelum matahari terbit dari sebelah barat.

Ingatlah bahwa menjauhi kemaksiatan adalah lebih utama sebelum melakukan kebaikan atau meningkatkan ibadah. Sebagai tambahan, hendaklah ia banyak berbuat baik, supaya kebaikan itu menghapus dosa yang telah lalu.

  1. Perlu diketahui bahwa seseorang yang telah berzina dengan lawan jenis kemudian ia bertobat dari perbuatan keji itu maka telah terangkatlah sifat zina dari dirinya.
  1. Apabila sudah bertobat dari zina dan pacaran, maka bersegeralah merubah gaya hidup. Jadikanlah Al-Qur’an dan sunah sebagai pedoman hidup. Perbanyaklah waktu yang dikhususkan untuk menuntut ilmu agama (Islam) supaya bisa jelas baginya jalan yang diridhai oleh Allah dan jalan yang dibenci oleh-Nya.

            Apabila hal-hal diatas sudah anda lakukan, maka perbanyaklah berdo’a kepada Allah supaya Allah memberinya pasangan hidup yang shaleh atau shalehah dan apabila Allah kehendaki Allah akan mengabulkan doanya bila ia bersungguh-sungguh dalam doanya. Sungguh Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang terhadap hamba-Nya.

Buku referensi: Selamat Tinggal Pacaran, Selamat Datang di Pelaminan
Penulis: Atho’ Illah
Kisah Pernikahan Ali dan Fatimah

Kisah Pernikahan Ali dan Fatimah

Kisah Pernikahan Ali dan Fatimah yang Luar Biasa

Kisah Pernikahan Ali dan Fatimah Ketika Rasulullah saw., hendak mengawinkan putrinya Fathimah Az-Zahra, beliau tidak memedulikan tawaran para pembesar Quraisy dengan kekayaan mereka. Beliau menikahkannya dengan Ali bin Abi Thalib, seorang Quraisy, saudara sepupu dan sahabat terdekat yang paling miskin pada waktu itu.

Sayidina Ali bercerita tentang pernikahannya, “Seorang pembantu wanita saya bertanya kepadaku, ‘Apakah kau tahu bahwa Fathimah telah dipinang orang?’

Saya jawab, ‘Saya tidak tahu.’

Lalu, dia memberitahukan, ‘Dia sudah dipinang orang. Kenapa kau tidak meminangnya? Kau pergilah kepada Nabi untuk meminangnya. Insya Allah beliau akan menerimanya dan menikahkanmu dengan putrinya.’

Baca: Ciri-ciri Laki-Laki yang Pantas Dijadikan Suami

Saya jawab, ‘Tapi, saya tidak punya apa-apa untuk bekal pernikahan itu!’

Lalu ulangnya lagi, ‘Kalau kau datang kepada Rasulullah, insya Allah beliau akan menikahkanmu.’

Dia terus-terusan mendesakku. Sehingga, aku memutuskan untuk masuk menemui Nabi. Di hadapan kekasih Allah yang agung dan penuh wibawa itu, aku terdiam. Aku tidak mampu berkata-kata, apalagi untuk meminang putri beliau yang mulia.

Beliau memandangku dan dengan lembut menyapaku, ‘Ada keperluan apakah sehingga kau datang menemuiku?’

Aku terdiam. Beliau bertanya lagi. ‘Atau, barangkali kau datang untuk melamar Fathimah?’

Dengan ragu-ragu aku menjawab, ‘Ya.’

‘Apakah kau mempunyai mahar untuk menikahinya?’ Tanya Nabi.

Baca: Kisah Niatan yang Salah

Aku kembali terdiam. Lalu sejenak kemudian aku menjawab, ‘Tidak ya Rasulallah. Demi Allah!’

‘Mana baju besi yang pernah aku berikan kepadamu?’ tanya Rasulullah.

‘Ada. Tapi demi Allah, ia hanya sebuah baju besi saja, yang nilainya tidak lebih dari 400 dirham!’

Nabi saw., berkata, ‘Biarlah. Baik, dengan itu aku menikahkan engkau dengan putriku. Antarkan baju besi itu kepadanya, dan pernikahanmu telah halal dengan mahar baju besi itu.’

Itulah mahar Fathimah binti Rasulullah.”

HIKMAH

Orang yang mengharap ridha Tuhannya tidak berat menikahkan putrinya dengan orang miskin yang baik agamanya. Ridha Allah lebih berharga di hatinya daripada kekayaan sebanyak apa pun.

Buku Referensi: 88 Kisah Orang-orang berakhlak Mulia
Karya: Harlis Kurniawan

Jangan Takut Nikah Muda

Jangan Takut Nikah Muda

Jangan Takut Nikah Muda

Jangan Takut Nikah Muda Pada pembahasan kali ini kita akan membahas tentang nikah muda. Kenapa harus nikah muda? Kita lihat sekarang ini, banyak remaja-remaja yang takut untuk menikah muda, padalah mereka sudah bisa kerja dan cari duit sendiri. Nahh.. sudah pada hebat-hebat kan.

            Akan tetapi, mereka enggan mempersiapkan diri untuk menikah di usia muda. Katanya kalau menikah di usia muda itu berarti mereka habis berzina. Jadi laki-laki harus menikahi perempuan yang di zinahi itu. Ada juga orang-orang yang ngomong gini, “Masih bocah udah nikah, paling bentar juga pisah.” Ada juga nih remaja-remaja yang ngomong kalau mereka belum matang, belum dewasa, masih pengen menikmati masa muda, belum pengen mikir berat, belum pingin punya anak, dan masih belum-belum yang lainnya.Itulah beberapa alasan dari temen-temen remaja kita.

Akhirnya Larinya ke Jalan Pacaran

 Biasanya anak-anak muda itu melampiaskan rasa cinta mereka terhadap lawan jenisnya itu lewat jalan pacaran. Iya kan? Kasian masnya nanti, buang-buang duit buat nyenengin cewek yang belum tentu jodohnya dan kasian juga mbaknya, di PHP-in sama cowoknya itu, Cuma buat muasin nafsu si cowok aja,hahaha…

Udah lahh… putusin aja. Kan belum tentu jodohnya, malah nambah-nambah dosa aja.

Lebih baik itu kalau kalian siap-siap buat jadi suami atau istri yang baik nantinya, bukannya jadi pacar yang baik dan pengertian. Sekarang kan udah banyak remaja yang habis lulus SMA/SMK/MAN yang langsung kerja. Nahh.. kalau udah bisa kerja, tinggal nyiapin diri sama ngumpulin duit buat modal nikah nanti, jangan di habisin duitnya Cuma buat pacarnya. Insya Allah jika kita lebih memilih nikah muda, Allah akan memberikan kemudahan dalam beribadah dan beramal sholeh. Dan berarti kita juga sudah menjalankan sunnah Nabi kita tercinta. Seperti yang telah beliau sabdakan.

Wahai para pemuda, barang siapa di antara kamu yang telah mampu menikah, maka bersegeralah untuk menikah. Sesungguhnya,itu akan lebih bisa menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Dan barang siapa yang belum sanggup menikah, maka hendaklah ia berpuasa. Karena puasa itu bisa mengekangnya (nafsu). ” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tuhh.. buat para pemuda, yang sudah siap buat nikah, segeralah nikah jangan di tunda-tunda. Malah nambah dosa lo nanti. Kalau belum sanggup ya puasa. Perintah Nabi itu buat para remaja lo, bukan buat yang dewasa ataupun tua. Kita tau kalau usia 17+ itu udah di anggap remaja. Dan juga karena remaja itu masa yang rawan. Masa di mana nafsu syahwat sudah mulai membara, bergejolak dan berkobar-kobar. Ya seperti itulah kenapa Nabi memerintahkan bagi para remaja untuk segera menikah jika sudah siap.

Baca: Ciri-ciri Laki-laki yang Pantas Dijadikan Suami

Gimana Kalo yang Belum Punya Uang?

Jika kalian belum punya pekerjaan tetap, rumah, karir yang bagus, jabatan tinggi, title banyak, atau bisa dibilang masih miskin lah. Tenang aja guys.. Allah sudah berjanji di dalam Al-Quran.

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nuur: 32)

            Allah sudah berjanji di dalam Firman-Nya. Jika kalian miskin, maka Allah akan memampukan kalian. Yang jadi permasalahannya sekarang adalah kalian yakin dan percaya dengan janji Allah itu nggak? Jika kalian yakin dan percaya, maka segera mempersiapkan diri buat nikah. Nggak masalah walaupun masih muda. Agama nggak pernah ngelarang kok, malah Rosulullah ngasih perintah buat para remaja yang sudah sanggup buat segera nikah.

Jangan Habiskan Umur Kalian dengan Hal yang Tidak Bermanfaat

            Jangan kalian habiskan umur kalian yang masih muda-muda ini dengan hal-hal yang dilarang oleh agama, seperti pacaran. Jika kalian lebih milih pacaran dulu, trus kalo cocok baru nikah. Yaa.. mungkin kalian nggak akan pernah nemuin gimana nikmatnya memegang tangan sang istri/suami untuk pertama kalinya..wiihh.., gimana nikmatnya tangan di cium oleh istri atau nikmatnya istri mencium tangan sang suami saat kalian sudah sah jadi suami istri di saat acara ijab qobul itu lo, gimana nikmatnya malam pertama, dan nikmat-nikmat yang lain ketika sudah menikah, karena memang belum pernah ngerasain sebelumnya.

Baca: Kisah Menahan Nafsu dari Abdurrahman Al-Qass

            Berbeda lagi jika kalian memulainya dengan pacaran dulu. Pacaran jaman sekarang kan bisa dibilang blak-blakan, udah kayak suami istri gitu. Jadi ya nggak bakalan nemuin nikmatnya setelah menikah, karena udah banyak yang dilakuin sama pacar sebelum nikah, apalagi kalo pacarannya udah lama.

            Maka dari itu temen-temen remaja, mulai sekarang persiapkan diri kita untuk menikah. Biar nggak terus-terusan ngelakuin maksiat. Biar dapet ridha Allah. Dan juga jangan takut ya untuk menikah di usia muda. Pokoknya selalu semangat dalam melakukan apa yang Allah dan rosul-Nya perintahkan dan selalu semangat dan berusaha untuk tidak melakukan apa yang dilarang oleh Allah dan rosul-Nya.

Ciri-Ciri Laki-laki yang Pantas Dijadikan Suami

Ciri-Ciri Laki-laki yang Pantas Dijadikan Suami

5 Ciri-Ciri Laki-laki yang Pantas Dijadikan Suami

Ciri-Ciri Laki-laki yang Pantas Dijadikan Suami Setiap muslimah tentu mendambakan laki-laki yang shaleh lagi taat ibadahnya, bagus akhlaknya serta indah tutur katanya, pandangan mata yang menyejukkan, setiap untaian katanya yang baik lagi berisi nasihat-nasihat yang indah.
Kebingungan yang sering muncul bagi setiap muslimah adalah bagaiman cara mendeteksi atau melihat laki-laki tersebut baik atau tidak, bagaimana mengenali ciri-cirinya. Banyak yang kelihatannya shaleh namun setelah menikah sifat aslinya menunjukkan jauh dari keshalehan. Banyak yang tampak di luar baik namun ketika menikah terlihat sangat berbalik sekali dengan sifat awal yang dikenal. Penyesalan si akhir tentu hal yang tidak diinginkan oleh semua wanita, tidak mau kalau pernikahan yang dia dambakan adalah sebuah kebahagiaan namun berujung pada penyesalan karena mendapatkan laki-laki yang jauh dari harapannya.
Berikut kami akan bagikan 5 Ciri-Ciri Laki-laki yang Pantas Dijadikan Suami, yang insya Allah cocok di hati.

1. Baik hubungannya dengan Allah Swt

Ciri pertamanya adalah memiliki hubungan baik dengan Allah Swt. Hal ini bisa terlihat dari ibadahnya kepada Allah, shalat tepat waktu, mengerjakan amalan-amalan sunah, ingin selalu dekat dengan Allah bisa dilihat dari kualitas dan kuantitas berinteraksi dengan Al-Quran. Selalu menjaga diri dari perbuatan yang dilarang seperti menundukkan pandangannya pada wanita, menjaga pergaulannya dengan wanita yang bukan mukhrimnya.

2. Baik hubungannya dengan orang tuanya, khususnya ibu

Ciri kedua yang dimiliki oleh laki-laki shaleh adalah memiliki hubungan baik dengan ibunya. Ia selalu taat dan patuh pada ibunya, selalu berbakti kepada ibunya selama tidak melanggar perintah Allah dan rasul-Nya serta memiliki hubungan khusus dengan ibunya.

Baca: Kisah Tentang Niatan yang Salah

3. Baik dan perhatian pada anak-anak

Ciri yang ketiga adalah memiliki rasa kepedulian yang tinggi terhadap anak-anak kecil. Biasanya ia akan sensitif ketika melihat anak-anak dan secara refleks ingin bermain dengan anak-anak yang dilihatnya, serta menggendong anak-anak yang dilihatnya. Rasa ini muncul tanpa sengaja, tapi memang sudah ada dalam dirinya. Ini sangat penting karena mencari suami adalah mencari calon ayah bagi anak-anakmu, maka pastikanlah ia orang yang memiliki kepedulian terhadap anak kecil. Sebagaiman rasulullah saw., yang berhenti dan bahkan turun dari untanya ketika melihat anak kecil.

4. Baik hubungan sosial dan kemasyarakatannya

Berumah tangga adalah proses yang komplet, mempertemukan dua insan yang berbeda, mempertemukan dua keluarga yang berbeda, dan juga mempertemukan dengan kehidupan serta lingkungan yang baru. Hidup bertetangga adalah salah satu hal yang akan dijalani oleh setiap keluarga. Maka kemampuan menjalin hubungan sosial kemasyarakatan adalah hal penting yang mesti dimiliki oleh sang suami sebagai kepala rumah tangga. Apalagi ia bisa membaur dengan lingkungan sekitar, turut dan ikut serta kegiatan-kegiatan kemasyarakatan di sekitarnya seperti kerja bakti, pengajian, saling tolong menolong dan membantu dalam suka duka.

Baca: Muslimah Harus Berhijab dengan Benar

5. Baik hubungannya dengan uang

Uang, ia memang bukanlah segala-galanya, akan tetapi untuk mendapatkan segala-galanya butuh yang namanya uang. Tak sedikit rumah tangga yang bubar, hancur berantakan berujung pada perceraian hanya gara-gara uang. Apakah karena uang yang sedikit, suami yang tidak bisa mencari uang atau mungkin kehidupan yang terlalu boros tidak seimbang antara pengeluaran dan pemasukan menyebabkan berhutang sana-sini.

Kemampuan berhubungan baik dengan uang adalah kemampuan wajib yang mesti dimiliki seorang suami, mampu mencarinya dengan cara dan sumber yang halal, serta mampu juga mengatur pemasukan dan pengeluaran. Baik hubungannya dengan uang bukan berarti ia kaya raya dan memiliki banyak uang. Akan tetapi ia mampu menggunakan uang menyeimbangkan antara pemasukan dan pengeluaran, mengatur emosi untuk memilih antara suatu kebutuhan dengan yang hanya keinginan.

Ya, kurang lebih itulah 5 Ciri-Ciri Laki-laki yang Pantas Dijadikan Suami yang jika ia datang melamarmu jangan kamu tolak. Tips lain mudah bertemu dengannya adalah memantaskan diri seperti ciri-cirinya, karena jodoh adalah cerminan dirimu.

Referensi Buku: Makin Syar’i Makin Cantik
Karya: Agus Ariwibowo & Fidayani (founder www.diarypernikahan.com)

Kisah Tentang Niatan yang Salah

Kisah Tentang Niatan yang Salah

Kisah Tentang Niatan yang Salah dari Seorang Qori, Pemberi Sedekah dan Mujahid

Niatan yang Salah – Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam Sunan-nya dengan sanadnya sampai Sufayi Al-Ashbahi bahwa ia masuk madinah. Tiba-tiba ia mendapati laki-laki yang dikelilingi oleh orang-orang.

Sufayi bertanya, “Siapa itu?”

Orang-orang menjawab, “Abu Hurairah.”

Sufayi lalu mendekatinya sampai duduk di depannya. Abu Hurairah sedang menceramahi orang-orang. Ketika Abu Hurairah diam dan keadaan telah sepi, Sufayi berkata kepadanya, “Kuminta padamu dengan sungguh-sungguh hendaklah engka katakana kepadaku sebuah hadits yang kau dengar dari Rasulullah yang kau pikir dan kau ajarkan.”

Abu Hurairah berkata, “Baiklah, akan aku ceritakan kepadamu sebuah hadits Rasulullah yang mengatakannya kepadaku, aku pikir dan aku ajarkan.”

Abu Hurairah Menangis

Kemudian Abu Hurairah tersedu-sedu, ia berhenti sebentar, lalu sadar kembali dan berkata, “Akan aku ceritakan kepadamu sebuah hadits yang Rasulullah mengatakannya kepadaku di rumah ini. Tidak ada seorangpun di sini kecuali aku dan beliau.”

Abu Hurairah kembali tersedu-sedu, lalu sadar dan mengusap wajahnya. Ia lalu berkata, “Akan aku ceritakan kepadamu sebuah hadits yang Rasulullah mengatakannya kepadaku di rumah ini. Tidak ada seorangpun di sini kecuali aku dan beliau.”

Kemudian Abu Hurairah kembali tersedu-sedu, lalu sadar dan mengusap wajahnya. Lalu berkata, “Akan aku ceritakan kepadamu sebuah hadits yang Rasulullah mengatakannya kepadaku di rumah ini. Tidak ada seorangpun di sini kecuali aku dan beliau.”

Abu Hurairah kembali tersedu-sedu dengat sangat hebat, kemudian ia condong mau rubuh ke depan. Sufayi menyandarkan Abu Hurairah pada dirinya lama sekali.

Kemudian Abu Hurairah tersadar lalu berkata, “Rasulullah bercerita kepadaku bahwa Allah pada hari kiamat turun menemui hamba-hamba-Nya untuk mengadili mereka. Setiap umat berlutut. Yang pertama kali dipanggil adalah orang yang hafal Al-Quran, orang yang terbunuh dalam perang di jalan Allah dan orang yang banyak hartanya.

Baca: Adab Media Sosial bagi Para Muslimah

Allah Bertanya Kepada Mereka

Allah lalu berkata pada si qari (pembaca Al-Quran), ‘Bukankah Aku telah mengajarimu apa yang Aku turunkan kepada rasul-Ku?’

Si qari menjawab, ‘Ya, benar Tuhanku.’

Allah lalu bertanya, ‘Apa yang kau lakukan dengan apa yang aku ajarkan?’

Ia menjawab, ‘Aku mendirikan shalat dengannya di tengah malam dan siang.’

Allah seketika berkata kepadanya, ‘Kau dusta!’

Malaikat juga berkata kepadanya, ‘Kau dusta!’

Allah berkata, ‘Tetapi, kamu ingin agar dikatakan si Fulan seorang qari dan hal itu telah dikatakan!’

Setelah itu didatangkanlah pemilik harta. Allah berkata padanya, ‘Bukankah telah Aku luaskan rezekimu sampai Aku tidak membiarkanmu butuh pada orang lain?’

Ia menjawab, ‘Ya benar Tuhanku.’

Allah bertanya, ‘Apa yang telah kau perbuat dengan apa yang Aku berikan kepadamu?’

Ia menjawab, ‘Aku menyambung tali silaturahmi dan bersedekah.’

Allah seketika berkata kepadanya, ‘Kau dusta!’

Malaikat juga berkata kepadanya, ‘Kau dusta!’

Allah berkata, ‘Kau hanya ingin agar dikatakan si Fulan orang yang dermawan dan hal itu telah dikatakan!’

Setelah itu didatangkanlah orang yang terbunuh di jalan Allah. Allah berkata kepadanya, ‘Kenapa kau terbunuh?’

Ia menjawab, ‘Engkau memerintahkan jihad fi sabilillah, maka aku berperang sampai terbunuh.’

Allah seketika berkata kepadanya, ‘Kau dusta!’

Malaikat juga berkata kepadanya, ‘Kau dusta!’

Allah berkata, ‘Kau hanya menginginkan agar di katakana si Fulan pemberani dan hal itu telah dikatakan!’

Rasulullah lalu menepuk kedua lututku dan bersabda: ‘Wahai Abu Hurairah, tiga orang itu adalah makhluk Allah yang pertama kali digunakan untuk menyalakan api neraka pada hari kiamat.’

HIKMAH

Sebanyak apa pun ibadah jika dilakukan dengan niatan yang salah dan tidak ikhlas karena Allah, maka ibadah itu tertolak. Sebanyak apapun kebaikan jika dilakukan dengan niatan yang salah dan tidak ikhlas karena Allah, maka kebaikan itu sia-sia saja.

Baca: Ciri Laki-laki Baik yang Jangan Sampai Kamu Tolak Jika Melamarmu

Buku Referensi: 88 Kisah Orang-orang berakhlak Mulia
Karya: Harlis Kurniawan

Adab Menggunakan Sosial Media Bagi Muslimah

Adab Menggunakan Sosial Media Bagi Muslimah

Adab Menggunakan Sosial Media Bagi Muslimah

Adab Menggunakan Sosial Media Bagi Muslimah – Sosial media sekarang ini menjadi hal yang selalu ada dalam kehidupan kita sehari-hari. Kebanyakan orang di Dunia ini memakai sosial media untuk berbagi informasi, upload foto selfie, update status dan untuk berkomunikasi jarak jauh antar teman, saudara dan lain-lain.

Smartphone dan berbagai jenis gadget pun tak lagi menjadi barang yang mewah dan istimewa, Karena hampir semua orang bisa membelinya dan menjadikannya barang yang wajib untuk dibawa kemana-mana (termasuk saya juga. hehe…). Bahkan sekarang ini anak-anak yang masih belajar di sekolah dasar ataupun masih belajar di TK (Taman Kanak-kanak) sudah diperbolehkan memiliki hape atau smartphone oleh orangtuanya.

Memang hape sekarang ini memliki banyak fitur canggih yang bisa kita nikmati, misalnya game, internet atau sosial media, aplikasi-aplikasi bagus dari playstore dan juga kita bisa memanfaatkan smartphone kita untuk belajar, mencari informasi di internet, bertanya kepada Syekh Google :D. Tetapi smartphone juga banyak hal-hal negatifnya selain hal positif yang di jelaskna di atas.

Pada bahasan kali ini, insya Allah, kita akan membahas etika dan Adab Menggunakan Sosial Media Bagi Muslimah. Untuk itu kami akan bagikan 5 etika dan adab di sosial media bagi kaum muslimah:

1. Berteman dan bergaul dengan yang baik-baik

Seperti halnya dunia nyata, di dunia maya pun kita harus memastikan kalau berteman, membangun jaringan komunikasi dengan yang baik-baik, kemudian kita mengikuti yang mengajak kepada kebaikan serta yang meningkatkan ketakwaan dan keimanan kepada Allah Swt.

Sebutlah media sosial facebook, salah satu fiturnya adalah pertemanan, update status, sharing dan komentar. Nah, postingan dari teman-teman kita tentu akan mempengaruhi pola pikir kita, apalagi jika dibaca terus menerus, membangun interaksi dengannya baik melalui komen, like dan ikut membagikan. Jika postingannya memberikan hal-hal yang positif seperti memberikan nasihat kebaikan, berbagi informasi yang bermanfaat tentu tidak masalah, namun jika postingannya berisi keluhan pribadi, curhatan masalahnya, menjelekkan orang lain, menyebarkan berita hoax tentu hal itu akan mempengaruhi juga pola pikir kita.

2. Jaga diri dan jangan posting foto pribadi di sosial media

Salah satu karakteristik pemakai sosial media adalah ingin selalu menginformasikan setiap kegiatan atau aktivitas pribadinya yang diupload melalui foto di sosial media. Bahasa gaulnya adalah “selfie”, bukan tentang boleh tidak atau halal haramnya selfie ini, tapi yang harus menjadi catatan utama bagi seorang muslimah adalah berhati-hati dalam menjaga diri dan juga membantu laki-laki dalam menundukkan pandangannya, jangan sampai gara-gara fotomu menjadi jalan dosa bagi laki-laki yang melihatnya. Kecuali jika kamu memastikan laki-laki tidak akan melihat fotomu dan jikapun melihat tidak akan menimbulkan syahwatnya (itupun jika benar-benar bisa memastikan lo..). Akan tetapi, menurut saya, akan lebih baik jika seoarang muslimah tidak sembarangan meng-upload foto dirinya di media sosial.

Baca juga: Kriteria Berhijab yang Benar Menurut Islam

3. Pastikan kebenaran suatu berita sebelum menyebarkannya

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu akan menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Di media sosial, contohnya saja di Facebook, mungkin tangan kita sangat mudah sekali untuk menekan tombol bagikan ketika melihat sebuah judul berita yang menurut kita sangat penting sekali. Padahal bisa memancing keributan serta permusuhan, dan sayangnya lagi kebanyakan kita juga menekan tombol “bagikan” tanpa membaca dan memahami dulu isinya. Berhati-hatilah karena setiap amal perbuatan kita akan diminta pertanggungjawabannya, termasuk menyebarkan informasi atau berita-berita.

4. Jangan lupa waktu

Sampai saat ini, sosial media menjadi monster pembunuh waktu nomor satu. Coba evaluasi dan hitung, berapa banyak waktu kita habiskan untuk stalking hal-hal yang tidak bermanfaat di sosial media, kepoin status orang, stalking foto orang, mendebatkan hal yang tidak penting, menjelek-jelekkan dan menyinggung orang di sosial media.

Jangan sampai waktu kita habiskan di sosial media untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Jangan sampai waktu kita habiskan di sosial media sehingga mengganggu atau melalaikan aktivitas utama kita. Jangan sampai waktu kita habiskan di sosial media dan melalaikan ibadah kita baik yang wajib maupun sunah.

5. Manfaatkanlah sosial media sebagai jalan dan sarana kebaikan

Jadikanlah sosial media sebagai sarana kebaikan, saling mengingatkan yang lain melalui postingan kita. Membagikan hal-hal positif lagi baik, serta mungkin juga bisa menjadikan sosial media sebagai jalan rezeki yang halal lagi baik untuk kita. Baca: Kisah Islami Penuh Hikmah

Referensi Buku: Makin Syar’i Makin Cantik
Karya: Agus Ariwibowo & Fidayani (founder www.diarypernikahan.com)

Kisah Menahan Nafsu dari Abdurrahman Al-Qass

Kisah Menahan Nafsu dari Abdurrahman Al-Qass

Kisah Menahan Nafsu dari Abdurrahman Al-Qass

Kisah Menahan Nafsu dari Abdurrahman Al-Qass – Abdurrahman Al-Qass adalah selah seorang penduduk Mekkah yang terkenal paling bagus ibadah dan zuhudnya. Tapi, ia akhirnya jatuh hati dengan seorang gadis cantik bersuara merdu Salamah.
Pada suatu kesempatan Salamah bertemu dengan Abdurrahman disebuah tempat sepi. Tentu saja dua orang yang sedang dimabuk cinta itu begitu gembiranya dengan pertemuan tersebut.
“Tuan, sungguh aku benar-benar mencintaimu,” ujar Salamah.
“Aku pun sangat mencintaimu.”
“Sungguh, aku sangat ingin memelukmu.”
“Demi Tuhan, aku pun demikian, Salamah,” ujar Abdurrahman.
“Lalu apalagi yang menghalangimu melakukan hal itu? Bukankah tempat ini sepi, sayang?” Tanya Salamah manja.

Baca juga: Kisah Mengharukan Islami Abad Ini dari Ayahanda Habib Syekh Assegaf

Teringat dengan Firman Allah Swt

“Kekasihku, sesungguhnya aku teringat Firman Allah: ‘Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.’ (QS. Az-Zukruf: 67) Duhai kekasih, aku tidak ingin perasaan cinta yang tumbuh di antara kita ini kelak akan menjadikan kita bermusuhan di hari kiamat.”
“Kamu benar, tapi apakah Allah tidak mau mengampuni kita kalau kita nanti bertaubat setelah bermaksiat?”
“Saya tidak bisa menjamin bahwa umur kita masih panjang setelah bermaksiat. Bisa saja ajal menjemput kita saat kita sedang bermaksiat,” ujar Abdurrahman lemas.
Kemudian Abdurrahman Al-Qass bangkit dan pergi dengan tangisan di kedua matanya. Sejak saat itu ia tidak mau lagi bertemu dengan Salamah. Ia akhirnya kembali lagi kepada kehidupannya dahulu yang dipenuhi dengan ibadah dan ketaatan kepada Allah.

Itulah Kisah Menahan Nafsu dari Abdurrahman Al-Qass yang dapat memberikan pelajaran bagi kita semua agar selalu berusaha menahan nafsu syahwat kita terhadap lawan jenis kita.

HIKMAH

Barangsiapa mencintai seseorang bukan karena Tuhannya, kelak ia akan menjadi musuh dari orang yang dicintainya di akhirat kelak. Sesungguhnya merugi orang yang mempunyai cinta seperti ini.

 

Buku Referensi: 88 Kisah Orang-orang berakhlak Mulia
Karya: Harlis Kurniawan

Muslimah Harus Berhijab dengan Benar

Muslimah Harus Berhijab dengan Benar

Kenapa Muslimah Harus Berhijab dengan Benar?

Muslimah Harus Berhijab dengan Benar Di dalam masyarakat, banyak sekali wanita muslimah yang belum siap untuk berhijab secara syar’i. Alasan mereka bermacam-macam. Ada yang belum siap, ada yang mau hijabi hati dulu, ada yang malu nanti dianggap kampungan, ada yang khawatir nanti nggak laku karena katanya kalau berhijab kayak orangtua. Ada juga yang nunggu jadi orang baik dulu, ada yang khawatir kalau berhijab syar’i malah tidak sesuai antara hijabnya dengan perilakunya dan juga alasan belum berhijab kaena hijab itu mahal dan belum punya uang untuk membelinya.

“Janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) Nampak pada dirinya. Hendaklah mereka menutup kain kerudung ke dadanya.” (QS. An-Nur: 31)

Wanita harus berhijab dengan benar karena hukumnya wajib

Baca: Kriteria Berhijab yang Benar Menurut Islam

Wajibnya berhijab bagi seorang muslimah adalah sebagaimana wajibnya shalat, wajibnya zakat, wajibnya puasa. Apakah ibadah-ibadah itu boleh beralasan untuk menundanya? Jelas tidak. Jika tidak mampu shalat berdiri ketika sakit, maka duduklah, jika tidak kuat duduk maka berbaringlah, jika tidak bisa berbaring maka shalatlah dengan isyarat. Selama masih ada nyawa di badan maka tidak ada alasan apapun untuk meninggalkan shalat. Begitu juga dengan puasa, jika sakit atau berhalangan untuk melakukannya maka wajib untuk membayar dan menggantinya di hari lain. Tidak ada alasan, tidak tapi-tapian untuk meninggalkannya, kami yakin semua paham tentang hal ini.

Kewajiban berhijab syar’i bagi muslimah juga seperti itu, bahkan diriwatkan ketika perintahnya berhijab maka disaat itu juga para shahabiyah (wanita-wanita muslim di zaman rasulullah saw.) langsung mengambil kainnya dan dipotong untuk ditutupkan ke kepala hingga dadanya. (HR. Imam Bukhari no. 4758). Tidak ada alasan, tidak ada pertanyaan, tidak kepikiran modis, gaya, cocok apa tidak warnanya.

Wajib meminjami jilbab untuk saudaranya yang tidak memiliki jilbab

Rasulullah saw memerintahkan kami untuk mengeluarkan para perempuan pada hari idhul fitri dan idhul adha, para perempuan yang punya halangan, perempuan yang sedang haid dan gadis-gadis yang dipingit. Adapun perempuan yang sedang haid, mereka memisahkan diri dari shalat dan menyaksikan kebaikan dan seruan kepada kaum muslim. Aku berkata, “Ya Rasulullah, salah seorang dari kami tidak memiliki jilbab.” Rasul saw, menjawab, “Hendaknya saudaranya meminjami dia jilbab.” (HR. Muslim)

Baca: Adab Media Sosial bagi Para Muslimah

Jelas sudah Rasulullah saw., menyampaikan jika belum punya sekalipun dan tidak punya sama sekali uang untuk membeli, maka kewajiban bagi saudaranya yang lain untuk meminjamkannya. Berhijab syar’i itu tidak harus menunggu sempurna dulu dalam ketaatan, menunggu dulu sikap dan perilakunya. Karena insya Allah dengan berhijab syar’i , Allah akan mampukan kita untuk jadi lebih baik, Allah bantu kita untuk jadi lebih taat.

Ayo menjadi muslimah sejati, berhijab mulai saat ini tanpa tapi dan nanti. Berat memang pada awal tapi yakinlah akan terasa indahnya di kemudian hari.

Referensi Buku: Makin Syar’i Makin Cantik
Karya: Agus Ariwibowo & Fidayani (founder www.diarypernikahan.com)

Kriteria Berhijab yang Benar Menurut Islam

Kriteria Berhijab yang Benar Menurut Islam

Berhijab yang Benar Menurut Agama Islam

Berhijab yang Benar Menurut Agama Islam – Nah pada bagian ini, insya Allah kita akan bahas tentang 8 kriteria hijab syar’i menurut ahli hadits pada abad ini, Syaikh Muhammad Nashiruddin ibn Nuh Al-Bani. Beliau merinci ada kurang lebih 8 kriteria hijab secara syar’i yang mesti diikuti oleh setiap muslimah.

Berhijab yang Benar Menurut Agama Islam adalah Sebagai Berikut :

1. Menutup dan melindungi seluruh tubuh, selain yang dikecualikan

Aisyah ra., berkata: “Suatu hari, Asma binti Abu Bakar menemui Rasulullah saw, dengan menggunakan pakaian tipis, beliau berpaling darinya dan berkata: ‘Wahai Asma, jika perempuan sudah mengalami haid, tidak boleh ada anggota tubuhnya yang terlihat, kecuali ini dan ini, sambil menunjuk ke muka dan telapak tangan.’” (HR. Abu Daud)

Syarat pertama adalah menutup dan melindungi tubuh, ingat disini katanya menutupi bukan membungkus, artinya kalau menutupi tidak terlihat lekuk badan wanita tersebut. Seberapa besar ukuran bajunya? Ya di sesuaikan dengan kondisi tubuh yang penting adalah menutupi tubuh, sekali lagi tidak membentuk lekuk tubuh.

2. Kainnya tebal

“Akan muncul di akhir umatku, wanita-wanita yang berpakaian tapi pada hakikatnya telanjang. Di atas kepala mereka terdapat suatu penaka punuk unta. Mereka tidak akan masuk surga, dan tidak juga akan mencium baunya surge. Padahal bau surge itu dapat dicium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

Al Iman ibnu ‘Abdil Barr menjelaskan bahwa yang dimaksud berpakain tapi telanjang adalah wanita-wanita yang mengenakan pakaian tipis, sehingga terlihat ke dalamnya dan membentuk lekuk tubuhnya. Belum membentuk dan menyembunyikan tubuh yang sebenarnya. Jadi syarat kedua hijab syar’i, pilih yang kainnya tebal dan tidak menerawan.

3. Bukan tabarruj

Apa itu tabarruj? Berlebih-lebihan dalam berhias, contohnya bedak yang terlalu tebal, lipstik yang terlalu merah merona dan mencolok. Serta memakai wangi-wangian yang mencolok hingga meniggalkan jejak wangi ketika dia melewati seseorang.

Allah Swt., mengingatkan kita dalam surah Al-Ahzab ayat 33:

“…Dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti otang-orang jahiliah…”

Selain itu perilaku seperti ini juga termasuk perilaku mubazir, mubazir uang karena untuk membeli peralatan kosmetik ini tentu tidak murah, apalagi ia akan diganti lebih dari 5 kali. Ya, kalau dia shalat tentu sehabis shalat akan kembali dibedakin tebal-tebal. Mubazir waktu juga, coba perhatikan orang yang menor seperti ini dalam sehari bisa menghabiskan waktu sampai 2 jam atau bahkan lebih hanya untuk berhias. Sayang sekali, alangkah baik waktunya dialokasikan untuk beribadah.

Baca: Kisah Menahan Nafsu

4. Kainnya longgar, tidak sempit dan tidak jatuh

“Rasulullah saw, memberiku pakaian qibthiyah (gaya mesir) yang tebal, hadiah dari dihyah Al-Kalbiy. Pakaian itu aku kenakan pada istriku. Maka suatu ketika Rasulullah saw bersabda: ‘Mengapa engkau tidak pernak memakai baju mesir itu?’Aku menjawab, ‘Baju itu aku kenakan pada istri saya.’ Beliau lalu bersabda, ‘Perintahkanlah istrimu agar mengenakan baju lain di bagian dalamnya. Aku khawatir pakaian mesir itu masih menggambarkan bentuk tulangnya’.” (Dikisahkan sahabat Rasulullah saw., Usamah bin Zaid)

Ada kalimat menarik dari ulama asal Papua, Ustadz Fadlan Gharamatan, beliau mengatakan, “ Kasihan dengan wanita-wanita kota ini, beru belajar telanjang dengan pakaian-pakaian minim, sementara kami di Papua sudah berpengalaman bertahun-tahun dan mulai memakai pakaian yang lebi bermartabat.”

5. Tidak memakai wewangian

“Wanita mana saja yang memakai haruman kemudian keluar dan lewat di muka oran g banyak dan mereka mendapati baunya, maka dia adalah pezina.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi)

Kenapa rasulullah melarang hal ini? Karena ternyata wangi-wangian yang dipakai oleh wanita tersebut dan tercium oleh laki-laki bisa dikenali oleh feromonnya. Feromon adalah zat kimia yang ada dalam tubuh yang lebih dikenal sebagai hormon cinta, zat ini sangat berpengaruh terhadap rangsangan seksual lawan jenisnya.

6. Tidak menyerupai pakaian laki-laki

“Rasulullah melaknat laki-laki yang memakai pakaian perempuan, dan perempuan yang memakai pakaian laki-laki.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Al-Hakim dan Ibnu Majah)

Baca: Malaikat Izrail Berkunjung ke Rumah

7. Tidak menyerupai pakaian orang-orang kafir

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia adalah bagian dari mereka.” (HR. Ahmad & Abu Dawud)

Wanita-wanita muslimah sekarang ini banyak yang meniru cara berpakaian orang-orang Barat, yang minim dan sexy. Jelas ini bukan ajaran islam.

8. Bukan merupaka pakaian ketenaran/popularitas

Menurut para ulama, ia bisa berwujud pakaian yang sangat mencolok bagusnya agar dikagumi serta dibicarakan sebagai orang yang hebat, kaya, mahal. Atau bisa juga sebaliknya, memakai pakaian yang jelek sekali dan mencolok agar dikatakan sebagai orang yang zuhud. Dua-duanya buruk di mata Allah. Jadi, berpakaian yang sedang-sedang saja dan tidak mencolok di depan umum atau masyarakat.

Referensi Buku: Makin Syar’i Makin Cantik
Karya: Agus Ariwibowo & Fidayani (founder www.diarypernikahan.com)

 

Kisah Ayahanda Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaf

Kisah Ayahanda Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaf

Kisah Ayahanda Habib Syekh yang Meninggal disaat Sujud

Kisah Ayahanda Habib Syekh – Hari itu adalah hari terbaik bagi dirinya. Hari jum’at yang disebutkan oleh baginda Nabi Muhammad saw sebagai pemimpin hari-hari dalam seminggu dan sebagai hari raya bagi umat Muhammad saw. Di hari itu tidak seperti biasanya baliau keluar mengekan pakaian yang sangat indah dan wangi, tidak seperti penampilan beliau di hari-hari biasa lainnya.

Biasanya beliau dikenal dengan penampilannya yang sangat sederhana dan bersahaja, serta tampil apa adanya, tetapi di hari jum’at itu beliau berpenampilan layaknya pengantin yang telah mempersiapkan diri untuk bertemu dengan kekasih yang dicintai dan didambakannya.

al-Habib Abdul Qodir bin Abdurrahman Assegaf adalah imam Masjid Jami’ Assegaf di Kota Solo. Masjid itu termasuk Masjid yang dibangun dengan didasari ketakwaan kepada Allah swt sebagaimana yang disebutkan dalam Surat at-Taubah ayat 108.

Pendiri Masjid Jami’ Assegaf Solo

Pendiri masjid itu adalah seorang wali Allah swt, al-Iman al-‘Afifbillah al-Quthub al-Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf, seorang tokoh wali Allah swt yang berada di Kota Gresik. Beliau berdakwah dan dimakamkan di Kota itu pula. Konon masjid itu adalah wakaf darinya setelah mendapat hadiah dari Raja Kraton Solo.

Habib Abdul Qodir berjalan menuju ke Masjid Jami’ Assegaf untuk memimpin sholat jum’at. Beliau menuju Masjid dengan menunggan becak. Kondisinya yang lemah tidak menghalanginya untuk tiba di masjid yang mulia lagi agung itu. Langkah demi langkah beliau memperdekat jarak masjid itu.

Maka sampailah Beliau di depan Majid, yang akan menjadi saksi kebaikan baginya kelak dihadapan Allah swt. Setiap jengkal masjid itu merasa bangga dipijak oleh beliau, kaki seorang imam yang memenuhi kewajibannya. Telapak kaki hamba Allah swt yang selalu berjalan menuju ke tempat yang diridhai-Nya.

Lalu sampailah Habib Abdul Qodir di depan mihrab dan melakukan sunnah-sunnah di Hari Jum’at. Ibadah Shalat Jum’at pun dilaksanakan. Dimulai dengan seorang bilal yang bangkit, lalu mengingatkan agar setiap yang hadir untuk tidak berbicara saat khatib berkhutbah dan mendengarkannya dengan seksama. Kemudian dimulailah dua khutbah dengan memenuhi rukun-rukunnya. Mereka yang menghadiri Shalat Jum’at itu memenuhi lantai satu dan dua Masjid Jami’ Assegaf. Karena khatib berkhutbah terlalu lama, maka Habib Abdul Qodir mengingatkannya agar mempercepat khutbahnya, sebab itu termasuk yang disunnahkan dalam pelaksanaan Sholat Jum’at.

Baca: Kisah Islami Penuh Hikmah

Saat Akan Dimulainya Shalat Jumat

Setelah khutbah selesai kemudian diteruskan dengan iqamah dengan perlahan-lahan sampai pada kalimat ‘Qod qoomati sholah… Qod qoomati sholah…’ Ketika kalimat diatas dilantunkan, maka para jama’ah Sholat Jum’at pun berdiri memenuhi setiap shaf yang panjang dan rapat. Shaf pertama penuh berdesak-desakan.

Habib Abdul Qodir bangkit mempersiapkan dirinya mengimami Shalat Jum’at. Wajahnya yang memancarkan wibawa melihat kearah makmum. Pandangan mata beliau tertuju pada salah seorang pemuda di masa itu, al-Ustadz al-Habib Muhammad Najib bin Thaha Assegaf. Beliau adalah pemuda yang memperhatikan masalah dakwah dan social di waktu itu. Habib Najib bin Thaha berada di shaf kedua di dalam jama’ah shalat itu. Namun Habib Abdul Qodir mengisyaratan kepadanya agar maju ke shaf pertama di belakang beliau.

Melihat shaf pertama yang telah penuh berdesak-desakan itu Habib Najib berkata: ‘Shaf pertama telah penuh, wahai Habib.’ Mendengar jawaban itu Habib Abdul Qodir menjawab menjawab dengan penuh kewibawaan menjadikan ksatria pun akan bergetar dihadapannya: ‘Wahai anakku, majulah, engkau tak mengetahui maksudku!’ Jawaban itu menjadikan Habib Najib spontan maju ke shaf pertama, walaupun harus memaksakan diri mendesak shaf yang telah penuh itu.

Kemudian Habib Abdul Qodir memulai shalat dengan bacaan takbiratul ihram dan diteruskan dengan membaca Surat al-Fatihah dan Surat al-A’la serta Surat al-Ghasyiah pada rakaat kedua. Di rakaat kedua itu beliau ruku,i’tidal,sujud,duduk diantara dua sujud, lalu melaksanakan sujud kedua pada rakaat kedua.

Sujud Terakhir yang Panjang

Keheningan menyatu dengan semua yang hadir, dalam sujud akhir yang panjang itu. Para jama’ah itu menunggunya di sujud kedua itu, namun beliau tak kunjung bangkit dari sujudnya. Suara nafas beliau terdengar dari speaker masjid. Jama’ah yang berada di belakang beliau mendengarkan tarikan dan hembusan nafas beliau yang bergerumuh. Tubuh beliau mengembang dan mengempis.

Menggantikan Posisi Iman di Saat Terkahir

Karena sujud itu sangat lama, maka Habib Najib bin Thaha yang dari tadi ragu-ragu hendak mengambil alih imam, memberanikan diri untuk menggantikan beliau. ‘Allahu Akba r,’suara takbir yang melengking melegakan para jama’ah, namun takbir itu sekaligus mengundang rasa penasaran mereka, karena suara takbir itu bukan berasal dari Habib Abdul Qodir.

Memang mereka benar, takbir itu diucapkan oleh Habib Najib. Apa yang terjadi pada diri Habib Adbul Qodir Assegaf? Tadyahud akhir di shalat itu segera diselesaikan dan ucapan salam untuk mengakhiri shalat diucapkan: ‘Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh… Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.’

Baca: Malaikat Izrail Berkunjung ke Rumah

Setelah salam itu diucapkan, para jama’ah yang berjumlah banyak itu berhamburan lari kedepan. Mereka ingin mengetahui apa yang terjadi pada Habib Adbul Qodir Assegaf. Begitu pula jama’ah yang ada ditingkat dua, mereka segera turun menuju ke mihrab Masjid Assegaf. Saat itu mereka mendapati Habib Abdul Qodir Assegaf tetap dalam keadaan tidak bergerak.
Tubuhnya tak bernyawa lagi. Ruh beliau terbang ke hadhirat yang tinggi lagi angung. Menuju ke makam yang suci lagi jernih. Kemudian tubuh yang bersujud itu diangkat oleh para jama’ah yang hadir saat itu dan terlihatlah wajah Habib Abdul Qodir Assegaf. Sungguh setiap orang yang melihat wajahnya akan menitikan air mata.

Bagaimana tidak menitikkan air mata?

Mereka melihat wajah Habib Abdul Qodir Assegaf tersenyum dengan jelas sekali. Tersenyum bahagia, karena beliau sukses menjalani ujian-Nya dan berhasil membuktikan kepada-Nya dengan amal-amalnya yang terbaik.

Demikian, Habib Abdul Qodir Assegaf wafat dalam keadaan menikmati amal yang terindah. Di saat melakukan ibadah yang teragung yaitu shalat. Mendirikan shalat itu dalam kondisi yang terutama, yaitu berjama’ah. Melakukan shalat yang bermuatan besar, yaitu Shalat Jum’at. Pada saat melaksanakan rukun shalat yang terutama, yaitu sujud. Dalam posisi yang terpenting, yaitu sebagai imam Shalat Jum’at. Di tempat yang paling utama, yaitu di masjid. Di hari yang paling utama, yaitu hari jum’at. Wallahua’lam.

Buku referensi: Gema Shalawat dan Dakwah di Nusantara bersama Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaf.
Penyusun: Abdul Qodir Umar Mauladdawilah
%d blogger menyukai ini: